Apr 26

alhamdulillah, dalam masa yang panjang vacum of power. sore kmrn telah dilantik presbem yang baru pak alqon. smg semakin membawa kemanfaatan untuk fkip. HIDUP MAHASISWA

Apr 23

terhitung hampir 4 bulan setelah pemilu, terhitung hampir satu bulan setelah DEMA baru dilantik, akhirnya semakin dekat dengan masa yang ditunggu yaitu kepengurusan BEM FKIP 2012. dimulai dengan oprec tanggal 17 april 2012. dengan 7 kementrian. BEM siap menjadi salah satu bagian dari pergerakan mahasiswa yang mendidik mahasiswa FKIP UNS menjadi generasi yang peduli dan mampu memberi solusi atas permasalahan negeri ini terutama dalam bidang pendidikan, menyiapkan para calon pemimpin yang siap berkorban dan memberi manfaat pada banyak orang. bergabunglah bersama kami, ditunggu sampai tanggal 26 april 2012. jadilah bagian dari pemain dalam lapangan sepakbola, jangan cuma penonton yang berteriak di belakang pagar. jadilah bagian dari sejarah mahasiswa indonesia, jangan hanya berani kritis tak solutif.

Aug 22

Aku bertanya dan bertanya…
Siapa aku????
Kalo ada yang bertanya siapakah aku sebenernya? Aku sendiri masih gak tau pasti.. kalo ada orang bilang, aku hanyalah seorang insan manusia yang juga mencoba tuk raih ridhoMu.. itu aku.. weitszzzzz…. sok bijak bangget yaks?? Tapi emang bener ko’.. setelah kurang lebih 19 tahun berlalu.. aku mengalami banyak hal.. buanyakkkkssss buangggeeeeeettttt….!!!!!!!!!! banyak hal yang menyenangkan, menggembirakan, menyedihkan, ato mungkin mengecewakan.. aku sendiri terkadang tidak tau pasti.. sebenernya siapa aku?
Aku mengutip hadits Rasulullah yang mengatakan ”know thyself, know thy Lord.” Kenalilah diri sendiri, maka kau akan mengenal Tuhan. Amin. Dengan mengenali Tuhan, kita mengenali pula kehendak-Nya dan kehendak-Nya akan kita. Hidup pun menjadi tertuntun (langsung oleh-Nya) dan kita pun dapat memenuhi fungsi kita di muka bumi sebagai rahmat bagi sekalian alam.
Temen.. terkadang sempat aku tersadar.. jika aku semakin beranjak dewasa yang artinya aku tidak boleh terus2an seperti ini.. tapi teman.. terkadang aku mencoba tuk melihat jauh kedepan.. jauh dari kehidupan dunia yang fana ini.. aku takut.. aku berserah padaNya.. aku sadar.. aku hanyalah sebagian kecil dari betapa besar seluruh bagian utuh yang diciptakanNya.. aku bahkan tak berani membayangkan apa yang akan ada didepanku 2 ato 3 hari lagi.. karena mungkin saja aku tak bisa memenuhi janjiku dihari itu.. ya ALLAH.. sungguh Engkau Maha Besar dan Maha Mengetahui..
Aku paling suka ma malam.. entah kenapa.. di malam hari aku bisa mengenangMu sepuasnya.. di malam hari aku berharap dapat terbangun kembali esok harinya.. di malam hari aku mengharap akan indah yang akan aku temui di esok harinya.. entahlah.. hanya Engkau Yang Maha Tau..
Aku hanya berharap akan indah yang bisa ku temui keesokan harinya.. namun terkadang aku menjadi seorang yang lupa.. jikalau dibawah sana masih banyak yang membutuhkan uluran tangan kita.. terkadang karena aku terlalu sering melihat keatas, hingga aku terlupa tuk melihat kembali kemana arah jalanku sesungguhnya dan ada apa hal dan sesuatu yang ada disepanjang jalanku..
Kalau semua yang terjadi bisa ku lagukan.. maka beribu-ribu lagu yang bisa ku cipta dalam waktu sekejap saja.. karena betapa banyaknya rasa dan kisah yang telah aku alami..
Ketika kita terus melangkah.. tak terasa berapa banyak kisah yang telah kita alami.. tak peduli berapa banyak cerita yang kita dengar.. baik tentang diri kita maupun orang lain..
Ketika itu tiba.. entah berapa banyak senyum, peluh dan air mata yang telah tertumpah.. kita tak bisa mengungkap semua itu.. terlalu banyak kata yang ingin kita lukiskan.. hanya satu kata.. it’s amazing.. =D
Ketika semuanya tak lagi bisa dimengerti dengan akal sehat kita.. hanya ada satu kata subhanallah.. semoga DIA tunjukkan yang terbaik bagi kita semua.. amien..
Terimakasih…! Salam hangat dan perdamaian selalu. Hidup Mahasiswa!!!
By : Ismy Saridiyanti
Wakadiv Admil BEM FKIP UNS 2011

Apr 29

Kamis, 21/04/2011 09:00 WIB – Tim Univet

Sudah menjadi kebiasaan banyak mahasiswa untuk tak segera mengerjakan tugas yang dibebankan kepadanya. Perilaku meremehkan semacam ini akhirnya membuat stres ketika semua tugas menumpuk dalam satu waktu.
Sebagai solusi beberapa terpaksa mengerjakannya dalam semalam mengingat sudah masuk dateline. Untuk mempermudah, tak jarang adegan copy paste pun dilakoni dengan tujuan akhir tugas selesai dikerjakan. Meski umum diketahui perilaku semacam itu berdampak buruk, toh kenyataannya masih saja hal semacam ini ditemui di lingkungan kampus. Padahal, tujuan pemberian tugas tak lain untuk mengukur kapasitas kemampuan mahasiswa dalam menyerap materi perkuliahan. Dengan pola pengerjaan semacam ini, secara tidak langsung tujuan pengukuran tak bisa terpenuhi dengan baik.
“Memang tidak semua mahasiswa malas dalam mengerjakan tugas, kemungkinan seperti itu disebabkan kebiasaannya sejak dari bangku SMA yang terbawa di saat menempuh pendidikan jenjang perkuliahan,” ujar Endang Susilowatiningsih (18). Hal yang sudah menjadi kebiasaan, memang sulit untuk dihilangkan. Selain itu, lemahnya mahasiswa dalam mengatur waktu antara urusan pribadi dengan kegiatan perkuliahan juga menjadi salah satu penyebab tertundanya dalam mengerjakan tugas.
Mahasiswi UNS jurusan Pendidikan Dokter itu menambahkan, sebaiknya mahasiswa mengerjakan tugas secepat mungkin dan tidak perlu ditunda- tunda, karena kalau ada waktu luang lain hari bisa dibuat untuk belajar atau mengerjakan tugas yang lain sehingga tugas tidak semakin menumpuk. Hal senada diutarakan Maya Nurlaila (19), mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo
Ia mengatakan, mahasiswa yang sering berpikir instan disebabkan oleh kurangnya semangat dan niat ketika masuk sebuah universitas. Mereka, kata dia, masuk ke kampus tidak berniat untuk mencari ilmu, melainkan hanya ingin bergaya ikut- ikutan saja. Selain itu, pola pikir dan perilaku semacam ini juga bisa terbentuk akibat pengaruh teman yang memiliki kebiasaan serupa. “Mahasiswa yang rajin pun bisa terpengaruh menjadi malas-malasan,” ujar Maya. Apalagi bagi mahasiswa yang berpikiran bisa membayar seseorang, tugas menjadi hal sepele. Mahasiswa dengan perilaku semacam ini cenderung berpikir bagaimana bisa cepat lulus tanpa harus bersusah-payah mengerjakan tugas kuliah.
Menurut Maya, apabila kebiasaan tersebut dibiarkan berlarut-larut, maka akan menyebabkan mahasiswa kurang wawasan dan kelulusan pun bisa tertunda. Karena hasil dari tugas juga berpengaruh terhadap nilai. “Begitu banyak dampak negatif yang ditimbulkan karena kebiasaan buruk tersebut, namun mahasiswa terlambat untuk menyadarinya,” terang dia.
Menanggapi fenomena ini, Drs Sri Harsono MSi, Pembantu Rektor I Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo mengatakan mahasiswa yang berpikiran instan, termasuk dalam pengerjaan tugas mencerminkan kurang serius dan tidak fokus dalam kuliah. “Tugas yang dikerjakan secara dadakan hasilnya akan terlihat kurang tepat dan benar”, tambahnya.
Bobot Nilai
Mengenai alasan mahasiswa berperilaku seperti itu lantaran banyaknya tugas dari setiap mata kuliah, Harsono mengatakan bukanlah alasan tepat. Menurut dia, perilaku seperti itu tergantung kepada karakter dari individu mahasiswanya masing-masing. Kebanyakan dari mereka yang seperti itu adalah mahasiswa yang mengikuti perkuliahan hanya sekadar mengincar kelulusan. Jadi, lanjut dia, kurang memperhatikan bobot dari tugas yang dikerjakannya. Apabila memang terbentur dengan banyaknya tugas yang diberikan dosen, mahasiswa diharapkan mampu mengatur jadwal kegiatannya agar tugas yang menjadi tanggung jawabnya pun dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Tugas yang diberikan dosen di setiap mata kuliah berbagai macam bentuknya. Tidak jarang tugas yang telah dibuat pun diminta untuk dipresentasikan demi mengetahui sejauh mana mahasiswa tersebut memahami apa yang dikerjakan. Bobot nilai dari tugas-tugas itu, kata Harsono, tidak bisa dianggap remeh. Sebab penilaian tugas terhadap indeks prestasi mahasiswa berbobot lebih dari 50% dari semua kriteria yang ada.
“Tugas yang dikerjakan mahasiswa secara dadakan atau tidak, bisa diketahui dosen dengan cara membandingkan hasil kerja mereka satu dengan yang lainnya. Dari situ akan diketahui mana mahasiswa yang mengerjakan secara konsen dan terencana dan mana yang dikerjakan mendadak,” papar dia. Lebih lanjut diutarakan, mahasiswa yang mengerjakan secara mendadak biasanya dari isi dan cara penulisan masih terlihat banyak yang salah. Karena mereka mengerjakan secara terburu-buru dan tidak memiliki waktu untuk mengoreksi ulang. Terlebih ada juga mahasiswa yang hanya sekadar copy paste atau menyalin tugas temannya ataupun hasil download dari internet,” tambahnya melengkapi.
Bagi mahasiswa yang masih berperilaku seperti ini, Harsono menyarankan untuk segera mengubahnya. Dikatakan dia penting bagi mahasiswa untuk bisa fokus dan berkonsentrasi dalam menjalani proses perkuliahan. “Dengan demikian, kita akan disiplin dalam mengerjakan tugas dan tidak lagi megerjakan secara dadakan yang berpengaruh pada kualitas isi dari tugas yang dikerjakan dan otomatis demi memperoleh nilai terbaik,” imbuhnya.

Tim Univet
http://www.harianjoglosemar.com/berita/meremehkan-tanda-tak-fokus-41894.html access on April 29, 2011

Apr 29

Rabu, 27/04/2011 09:00 WIB – Anita Widyaning Putri

Mahasiswa yang diagung-agungkan menjadi agent of change dan juga calon intelektual ternyata malah menjadi objek empuk untuk disusupi oleh ideologi Negara Islam Indonesia (NII).
Hal ini salah satunya disebabkan oleh banyaknya jaringan organisasi kemahasiswaan yang bisa jadi menjadi gerbang masuknya paham NII. Kondisi itu dibenarkan Pembantu Rektor III Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Drs Dwi Tyanto SU kepada Joglosemar, Selasa (26/4). “Bisa saja organisasi mahasiswa menjadi jalan masuknya pengaruh NII, tapi tidak semuanya seperti itu. Namanya mahasiswa banyak, tentu kita tidak bisa mengontrol satu-satu apa yang mereka lakukan. Kami hanya memantau saja jika ada laporan,” terangnya.
Lebih lanjut, kembali maraknya kasus cuci otak yang dilakukan pendukung NII mendorong pihak kampus memantau kondisi para mahasiswa. Pihaknya juga telah mengantisipasi adanya pengaruh NII dengan mengaktifkan seluruh organisasi kemahasiswaan. Misalnya saja dengan memperbanyak kegiatan positif. Karena menurut pengamatan Dwi Tyanto, jaringan NII cenderung mendekati mahasiswa baru utamanya yang penyendiri dan pendiam. Sehingga dengan ikut berkegiatan positif serta asistensi agama yang sesuai maka pengaruh NII bisa dicegah.
Pengawasan
Ketua Umum Jamaah Nurul Huda Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (JN UKMI) UNS, Ardi Amsir Amran kepada Joglosemar menyatakan pihaknya telah melakukan pengawasan adanya ajaran sesat, termasuk NII. “Kegiatan asistensi agama Islam merupakan kegiatan resmi yang diketahui Rektor serta berada di bawah payung mata kuliah umum Pendidikan Agama Islam,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu mahasiswa yang pernah bergabung dengan NII namun berhasil lepas, Ardian Mandala Putra mengisahkan dirinya terpedaya rayuan lantaran rasa ingin tahu. “Awalnya ada yang mengajak kenalan seorang gadis. Lalu, saya malah dibujuk untuk bergabung dengan NII dan sempat dibawa ke Jakarta,” terang mahasiswa Jurusan Administrasi Negara 2008 tersebut.
Saat itu, dirinya rela menyerahkan sejumlah uang. Namun, setelah dimintai uang hingga Rp 30 juta, Ardian langsung curiga dan berusaha keluar dari jaringan tersebut. Berkat bantuan dari teman-teman di sebuah unit kegiatan mahasiswa, ia berhasil lolos. “Jika ada orang asing yang tiba-tiba mengajak diskusi tentang kenegaraan dan keislaman, lebih baik dihindari saja jika mencurigakan. Bisa jadi itu jaringan NII,” tandasnya. n Anita Widyaning Putri
http://www.harianjoglosemar.com/berita/awas-cuci-otak-mahasiswa-sasaran-empuk-nii-42353.html access on April 29, 2011

Apr 29

Jumat, 29/04/2011 09:00 WIB – Aris Setyo Nugroho

SOLO—Menyikapi maraknya pemberitaan soal perekrutan anggota Negara Islam Indonesia (NII), jajaran Polresta Surakarta melakukan kerja sama dengan para tokoh masyarakat dan tokoh agama di Kota Solo. Dari hasil pertemuan itu, Kapolresta, AKBP Listyo Sigit Prabowo menyatakan, sementara belum ada basis NII di wilayah Kota Solo.
Kapolresta mengatakan, pihaknya juga telah menyampaikan ke lingkungan-lingkungan kampus sebagai upaya pencegahan upaya perekrutan di lingkungan akademis tersebut.
“Kita sudah terjunkan tim untuk masuk ke lingkungan kampus, dan telah izin untuk melakukan pemantauan sebelumnya. Untuk basis di wilayah Jawa Tengah memang ada, tapi tidak di Solo,” terang Sigit, Rabu (27/4).
Dia menambahkan, dari hasil pemantauan tim di wilayah kampus, dirinya juga belum menemukan indikasi gerakan perekrutan anggota NII di civitas akademika.
Sampai sekarang pun, belum ada laporan mengenai adanya warga Solo yang menjadi korban pencucian otak.
Namun Kapolresta mengimbau seluruh masyarakat Solo agar memberikan informasi pada aparat jika melihat ada tingkah yang berubah dari teman, saudara atau keluarga mereka dan dirasa meresahkan. Dicontohkan, beberapa ciri orang yang telah dicuci otaknya, yang semula periang menjadi pendiam dan bertindak ekstrem.
Karena itu menurut Kapolresta, pihaknya akan menindak tegas orang atau anggota NII yang tertangkap merekrut di wilayah Solo. “Pelaku bisa kita jerat dengan pasal penipuan yang berkedok agama. Tapi tergantung pencucian otak itu diarahkan ke mana,” urainya. n Aris Setyo Nugroho
http://harianjoglosemar.com/berita/kapolresta-tak-ada-basis-nii-di-solo-42543.html access on April 29, 2011

Apr 29

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Lukman Hakim Saefudin menyatakan, sebagian masyarakat mempertanyakan bagaiman kinerja intelijen saat ini hingga Negara Islam Indonesia kembali tumbuh di tengah masyarakat dan melakukan tindakan radikalisme.

Menurut Lukman, gerakan ini sudah ada sejak lama dan seharusnya intelijen telah bekerja untuk menjaring gerakan yang diduga melakukan cuci otak kepada anggota yang direkrutnya.

“Kalau masyarakat sebagian besar menganggap bahwa ini semacam pembiaran sepertinya tidak ada tindakan tegas terhadap NII, saya khawatir betul terjadi distrust atau ketidakpercayaan publik terhadap institusi negara,” kata Lukman di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (27/4/2011).

Menurut dia, kehadiran NII menjadi pekerjaan rumah bagi intelijen untuk mengungkap siapa yang berada di balik gerakan ini. “NII bukan baru setahun, dua tahun. Ini kan sudah ada sejak tahun 1960-an. Kenapa sekarang kemudian semakin marak dan eksis? Ini yang menjadi pekerjaan rumah intelijen untuk mengungkap siapa di balik ini. Intelijen kita harus bekerja keras,” ujarnya.

Lukman menambahkan, kembalinya gerakan NII ini bahkan juga menjadi kritik untuk intelijen. Namun, menurut dia, intelijen untuk masalah ini hanya bisa melakukan aktivitas intelijen semata, bukan untuk melakukan penangkapan maupun menginterogasi dan penahanan karena itu merupakan tugas kepolisian.

“Menurut hemat saya untuk mencari gerakan-gerakan seperti ini, sebenarnya kan kerja intelijen itu mendeteksi, tidak harus kewenangan menangkap. Karena kalau menangkap kemudian tidak ada yang bisa mengontrol bagaimana jika terjadi penyalahgunaaan kewenangan,” ujarnya.

Lukman menekankan kerja intelijen perlu semakin dimaksimalkan agar gerakan-gerakan seperti NII tidak sampai mengancam keutuhan bangsa dan negara.
http://nasional.kompas.com/read/2011/04/27/20460487/Ke.Mana.Intelijen.Saat.NII.Menyebar access on April 29, 2011

Apr 29

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto menghimbau seluruh kepala suku dinas dan kepala sekolah tingkat SMA dan SMK/sederajat untuk lebih memantau aktivitas ekstrakurikuler yang sifatnya tertutup. Hal itu sebagai tindakan preventif gerakan-gerakan menyusup Negara Islam Indonesia (NII) di kalangan siswa.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam ruangan-ruangan di tempat yang tidak terkontrol langsung perlu dipantau lebih jauh, baik di dalam atau di luar sekolah.
– Taufik Yudi Mulyanto
Taufik mengaku khawatir, apabila pengawasan lemah, para siswa akan dimasuki paham-paham NII yang keliru.

“Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam ruangan-ruangan di tempat yang tidak terkontrol langsung perlu dipantau lebih jauh, baik di dalam atau di luar sekolah,” kata Taufik, Jumat (29/4/2011), usai rapat paripurna dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI, di gedung DPRD, Jakarta.

Upaya pemantauan tersebut perlu dilakukan secara lebih intensif mengingat pergerakan NII sudah semakin menyebar di sekitar Jakarta. Polda Metro Jaya bahkan sudah memetakan 11 pusat pergerakan NII di Jakarta. Dari sebelas titik tersebut sebagian besar berada di daerah pinggiran atau suburban, seperti Jakarta Selatan, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Wilayah suburban dinilai lebih mudah dimasuki pemahaman NII karena warganya yang tidak sesibuk wilayah pusat kota. Taufik mengingatkan, di masa menjelang pengumuman nilai UN, ada rentang waktu yang sangat lama sehingga rawan bagi siswa terkena pergerakan NII.

“Oleh karena itu, penting juga bagi sekolah menyediakan tempat kegiatan ekstra yang sifatnya lebih terbuka,” tuturnya.

Selain itu, Taufik juga menegaskan, bahwa selalu perlu dilakukan lima aspek pendidikan di bidang intelektual, sosial, moral, mental, dan kecerdasan spiritual.

“Untuk mencapai aspek ini perlu dukungan dari masyarakat dan keluarga sehingga anak-anak kita tidak dengan mudah terkena pengaruh orang lain,” tandasnya.

Belakangan, kisah pergerakan NII kian marak diberitakan. Organisasi tersebut sengaja menargetkan kaum pelajar, baik mahasiswa maupun siswa SMA, untuk bergabung ke dalam organisasi itu.

Modus yang dilakukan biasanya dengan meminta orang untuk menjadi responden penelitian. Dari situ pelaku mulai menjalin komunikasi hingga pada pembicaraan seputar agama dengan memenggal ayat-ayat Al-Quran. Pelajar yang akhirnya masuk ke dalam organisasi itu pun kerap kali menghilang dari rumah, mencuri barang, hingga menarik diri dari pergaulan.
http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/29/13411128/Waspadai.NII.Awasi.Ekskul.Tertutup access on April 29, 2011.

Apr 13

HIDUP MAHASISWA!!!
Sabtu, 9 April 2011, pengurus BEM FKIP UNS KABINET INOVATIF telah dilantik oleh Presiden BEM FKIP terpilih Arip Budhi Hermawan.
Acara pelantikan dimulai pukul 08.30 oleh MC dengan diawali pembukaan dan dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Penampilan dari PERON pun ikut memeriahkan acara pelantikan. Ditambah lagi penampilan puisi dari menteri-menteri kabinet inovatif dan orasi dari perwakilan BEM Se-UNS. Diantara pesan perwakilan BEM yaitu pesan dari Presiden BEM FP yang mengatakan bahwa berbagi waktulah dengan alam, maka kamu tahu dirimu yang sesungguhnya. Acara pelantikan pun diakhiri dengan konsolidasi tiap kementrian dan selesai pada pukul 12.00.
Selamat atas dilantiknya PENGURUS BEM FKIP 2011 KABINET INOVATIF, semoga dapat menjalankan amanah dan berinisiatif untuk selalu inovatif.

Feb 19

AKHIRNYA Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan Undang Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) dengan suara bulat oleh seluruh hakim yang menyidangkannya. UU BHP yang oleh sejumlah pemohon dianggap sangat liberalistis tersebut akhirnya dibatalkan MK, karena dianggap tidak sesuai dengan amanat konstitusi yang secara tegas mengisyaratkan bahwa negara/pemerintah wajib menyediakan pendidikan yang terjangkau dan memadai bagi masyarakat.

Pertanyaannya, akankah pemerintah segera mematuhi keputusan MK tersebut? Serta akankah sesuai dengan janji kampanyenya pemerintah akan melaksanakan program (termasuk di bidang pendidikan) yang pro rakyat?

Terjangkau dan berkualitas
Bagi masyarakat akar rumput yang protes kerasnya terwakili oleh kalangan mahasiswa serta kalangan lainnya yang berjuang melalui Yudicial Review ke MK, pembatalan UU BHP tersebut tentu disambut dengan suka cita. Mereka tentu telah membayangkan bahwa sekolah serta kuliah di sekolah negeri serta PTN tentu akan berbiaya murah kembali. Dengan keputusan MK tersebut, harapan kalangan bawah yang semula pupus seakan bersemi kembali.

Demikian pula dengan para pengelola sekolah negeri serta PTN, tak perlu pusing memikirkan bagaimana memperoleh dana yang cukup, karena toh telah merupakan kewajiban pemerintah lah untuk memberikan dana operasional yang memadai. Sehingga mereka tinggal berkonsentrasi untuk mengembangkan kualitas akademik lulusannya, sembari bekerjasama saling menguntungkan dengan para stakeholders.

Dengan dana operasional yang memadai, ditambah dengan upaya kerjasama saling menguntungkan dengan para stakeholders, diharapkan masyarakat tidak lagi dibebani oleh berbagai beaya selangit justru ketika akan menyekolahkan serta menguliahkan anak ke lembaga pendidikan negeri. Khusus bagi PTN, tentu mereka akan mampu mengembalikan ke motto semula, seperti misalnya Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI) yang dahulu dengan bangganya menyebut dirinya sebagai Universitas Rakyat karena saking murahnya beaya yang dibebankan kepada mahasiswa, namun lulusannya telah terbukti kualitasnya.

Selain itu, keresahan para pengelola perguruan tinggi swasta (PTS) yang menganggap selama ini PTN terlalu serakah merebut pangsa pasar PTS hanya karena alasan desakan kebutuhan, tidak terdengar lagi. Dengan cara menerima mahasiswa sesuai dengan kemampuan (bukan hingga kedodoran seperti saat ini), maka kualitas lulusannya tentu akan dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, istilah ketidakadilan persaingan yang sering diibaratkan bak semut melawan gajah antara PTS dengan PTN tidak terdengar lagi. Bahkan bila ini yang terjadi ke depan, maka pola tunggal pengelolaan PT serta program kemitraan yang selama ini sekadar wacana, benar-benar akan terjadi. Dengan demikian pengembangan PTN ke arah Research University serta International University, akan segera terwujud, karena beban berat mencari dana yang dengan terpaksa harus melakukan Mc Donaldisasi PTN dengan menyediakan berbagai program (termasuk program nongelar) yang sebenarnya juga banyak diprotes secara internal, dapat segera dihentikan.

Hikmah bagi PTS
Selain sebagian besar masyarakat menyambut gembira dengan pembatalan UU BHP ini, para pengelola PTS yang selama ini juga ikut getol melakukan Yudicial Review, tentu juga menyambutnya dengan gembira. Melalui pembatalan tersebut, diharapkan PTN hanya akan menerima kelas reguler bahkan menekankan pada program pascasarjana serta Doktoral, sehingga PTS mampu memperoleh kembali haknya yang selama ini terkesan direbut PTN.

Namun, sangatlah tidak adil bila kalangan yang pro UU BHP lalu memvonis bahwa PTS akan seenaknya mencari untung tanpa memperhatikan kualitas lulusannya. Di era Pola Tunggal Pengelolaan PT seperti sekarang ini, hal demikian tidak mungkin bisa terjadi.

Setidaknya model Evaluasi Belajar dan Studi Berdasar Evaluasi Diri (EBSBED) yang langsung dipantau oleh Dikti serta akreditasi oleh BAN PT, tidak memungkinkan lagi PT bermain-main seperti berbagai kasus masa lampau.

Sebagai bukti kongkret, PTN yang dahulu membuka program ekstensi pun kemudian dihentikan, karena tidak mungkin bisa terakreditasi BAN PT, serta sulit melaporkannya dengan model EBSBED. Meski program ekastensi ditutup, namun selanjutnya berganti baju dengan Program Mandiri, Reguler II, dsb, yang diharapkan akan benar-benar dihilangkan setelah keputusan pembatalan UU BHP oleh MK.

Bagi PTS, meski penghapusan UU BHP oleh MK merupakan kabar yang menggembirakan, namun para pengelolanya tidak boleh terlena oleh bayangan akan segera diperolehnya kenikmatan, melalui perolehan mahasiswa baru yang meningkat drastis. Selain kurang pada tempatnya, karena mengelola PTS itu nawaitunya adalah pengabdian, ibadah, serta pelaksanaan amanah yang sangat berat konsekwensinya, terutama di akhirat kelak, masih ada berbagai faktor perlu diperhitungkan.

Faktor mengelola PTS sesuai dengan UU serta ketentuan lain yang berlaku seperti akreditasi BAN BT serta EBSBED, tentu memerlukan pemikiran, perencanaan, serta aplikasi yang prima, sehingga tujuan baik jangka pendek hingga jangka panjang akan tercapai. Demikian pula makin ketatnya persaingan antar-PT, tentu harus merupakan daya pacu untuk mencapai kualitas prima lulusannya, sehingga diperhitungkan para calon penggunanya, serta masyarakat luas. Melalui cara itulah maka branding (citra positif) PTS-nya akan melekat.

Selain itu, kondisi ekonomi masyarakat yang masih sangat sulit, tentu akan berpengaruh terhadap kemampuannya untuk memasukkan anaknya ke PT. Data empirik yang menunjukkan masih belum signifikannya peningkatan kemampuan orang tua untuk menguliahkan anak-anaknya perlu diperihitungkan.

Demikian pula dengan pengalaman kekeraskepalaan pemerintah yang belum tentu secara serta merta menuruti perintah MK, meski seharusnya pemerintah melakukannya, dengan berbagai alasan pembenar. Pengalaman tentang keputusan Mahkamah Agung (MA) tentang peniadaan Ujian Nasional (UN), yang terkesan diabaikan pemerintah, yang tahun ini tetap menyelenggarakannya, meski akhirnya berbagai masalah seperti tahun-tahun sebelumnya terus terjadi.

Karena itu, kita tentu berharap untuk keputusan MK terkait pembatalan UU BHP kali ini, pemerintah melaksanakannya. Selain memenuhi keputusan MK, sejatinya bila dilaksanakan hal ini sebenarnya adalah pelaksanaan program pendidikan yang pro rakyat, yang setiap saat hampir selalu diucapkan oleh Presiden.

Bagi pengelola PTS, meski perlu disyukuri, namun tidak boleh hal ini berubah menjadi eforia berburu calon mahasiswa, namun mengabaikan kemampuannya dalam mengelola. Perjuangan, ketekunan, ketelatenan serta upaya maksimal yang selama ini telah mereka lakukan harus tetap terjaga. Dengan demikian, kelak lulusannya akan mampu memberikan sumangsihnya secara maksimal kepada masyarakat, bangsa dan negara, sekaligus mampu mengharumkan nama almamaternya. f

Drs Gunawan Witjaksana MSi
Dosen STIK dan
Jurusan Ilmu Komunikasi USM

« Previous Entries